English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Jumat, 04 Mei 2012

MASALAH-MASALAH GIZI DI INDONESIA

MASALAH-MASALAH GIZI DI INDONESIA

1. KURANG ENERGI PROTEIN (KEP)

2. OBESITAS

3. ANEMIA

4. DEFISIENSI VITAMIN A

5. GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY)

KURANG ENERGI PROTEIN (KEP)/PROTEIN ENERGI MALNUTRITION (PEM)/PROTEIN CALORI MALNUTRITION (PCM)

    Adalah penyakit gizi akibat defisiensi energi dalam jangka waktu yang cukup lama.
    Prevalensi tinggi terjadi pada balita, ibu hamil (bumil) dan ibu menyusui/meneteki (buteki)
    Pada derajat ringan pertumbuhan kurang, tetapi kelainan biokimiawi dan gejala klinis (marginal malnutrition)
    Derajat berat adalah tipe kwashiorkor dan tipe marasmus atau tiep marasmik-kwashiorkor
    Terdapat gangguan pertumbuhan, muncul gejala klinis dan kelainan biokimiawi yang khas

Penyebab

    Masukan makanan atau kuantitas dan kualitas rendah
    Gangguan sistem pencernaan atau penyerapan makanan
    Pengetahuan yang kurang tentang gizi
    Konsep klasik diet cukup energi tetapi kurang pprotein menyebabkan kwashiorkor
    Diet kurang energi walaupun zat gizi esensial seimbang menyebabkan marasmus
    Kwashiorkor terjadi pada hygiene yang buruk , yang terjadi pada penduduk desa yang mempunyai kebiasaan memberikan makanan tambahan tepung dan tidak cukup mendapatkan ASI
    Terjadi karena kemiskinan sehingga timul malnutrisi dan infeksi

Gejala klinis KEP ringan

    Pertumbuhan mengurang atau berhenti
    BB berkurang, terhenti bahkan turun
    Ukuran lingkar lengan menurun
    Maturasi tulang terlambat
    Rasio berat terhadap tinggi normal atau menurun
    Tebal lipat kulit normal atau menurun
    Aktivitas dan perhatian kurang
    Kelainan kulit dan rambut jarang ditemukan

Pembagian

    Marasmus
    Kwashiorkor
    Marasmus-kwashiorkor

Marasmus adalah kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga anak menjadi “kurus” dan “emosional”. Sering terjadi pada bayi yang tidak cukup mendapatkan ASI serta tidak diberi makanan penggantinya, atau terjadi pada bayi yang sering diare.

Penyebab

    Ketidakseimbangan konsumsi zat gizi atau kalori didalam makanan
    Kebiasaan makanan yang tidak layak
    Penyakit-penyakit infeksi saluran pencernaan

Tanda dan gejala

    Wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus
    Mata besar dan dalam, sinar mata sayu
    Mental cengeng
    Feces lunak atau diare
    Rambut hitam, tidak mudah dicabut
    Jaringan lemak sedikit atau bahkan tidak ada, lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit menghilang
    Kulit keriput, dingin, kering dan mengendur
    Torax atau sela iga cekung
    Atrofi otot, tulang terlihat jelas
    Tekanan darah lebih rendah dari usia sebayanya
    Frekuensi nafas berkurang
    Kadar Hb berkurang
    Disertai tanda-tanda kekurangan vitamin

Kwashiorkor adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi.

Meski penyebab utama kwashiorkor adalah kekurangan protein, tetapi karena bahan makanan yang dikonsumsi kurang menggandung nutrient lain serta konsumsi daerah setempat yang berlainan, akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara.

Penyebab

    Kekurangan protein dalam makanan
    Gangguan penyerapan protein
    Kehilangan protein secara tidak normal
    Infeksi kronis
    Perdarahan hebat

Tanda dan gejala

    Wajah seperti bulan “moon face”
    Pertumbuhan terganggu
    Sinar mata sayu
    Lemas-lethargi
    Perubahan mental (sering menangis, pada stadium lanjut menjadi apatis)
    Rambut merah, jarang, mudah dicabut
    Jaringan lemak masih ada
    Perubahan warna kulit (terdapat titik merah kemudian menghitam, kulit tidak keriput)
    Iga normal-tertutup oedema
    Atrofi otot
    Anoreksia
    Diare
    Pembesaran hati
    Anemia
    Sering terjadi acites
    Oedema

Kwashiorkor-marasmik memperlihatkan gejala campuran antara marasmus dan kwashiorkor

Penatalaksanaan

Secara umum

    Ruangan cukup hangat dan bersih
    Posisi tubuh diubah-ubah (karena mudah terjadi dekubitus)
    Pencegahan infeksi nosokomial
    Penimbangan BB tiap hari

Secara khusus

Resusitasi dan terapi komplikasi

    Koreksi dehidrasi dan asidosis (pemberian cairan oralit atau infus)
    Mencegah atau mengobati defisiensi vitamin A
    Terapi Ab bila ada tanda infeksi atau sakit berat

Dietetik

    Prinsip TKTP dan suplemen vitamin mineral
    Bentuk makanan disesuaikan secara individual (cair, lunak, biasa, makanan dengan porsi sedikit-sedikit tapi sering)
    Pemantauan masukan makanan tiap hari (perubahan diet biasanya dilakukan setiap saat)

Persiapan pulang

    Gejala klinik tidak ada
    Nafsu makan baik
    Pembekalan terhadap orang tua tentang gizi, perilaku hidup dan lingkungan yang sehat

Komplikasi

    Infeksi saluran pencernaan
    Defisiensi vitamin
    Depresi mental

Program pemerintah –penanggulangan KEP

Diprioritaskan pada daerah-daerah miskin dengan sasaran utama

    Ibu hamil
    Bayi
    Balita
    Anak-anak sekolah dasar

Keterpaduan kegiatan

    Penyuluhan gizi
    Peningkatan pendapatan
    Peningkatan pelayanan kesehatan
    Keluarga berencana
    Peningkatan peran serta masyarakat

Kegiatan

Peningkatan upaya pemantauan tumbuh kembang anak melalui keluarga, dasawisma dan posyandu

Penanganan secara khusus KEP berat

    Rujukan pelayanan gizi di posyandu
    Peningkatan gerakan sadar pangan dan gizi
    ASI eksklusif

OBESITAS

    adalah penyakit gizi yang disebabkan kelebihan kalori dan ditandai dengan akumulasi jaringan lemak secara berlebihan diseluruh tubuh.
    Merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh
    Gizi lebih (over weight) dimana berat badan melebihi berat badan rata-rata, namun tidak selalu identik dengan obesitas

BB >>> tidak selalu obesitas

Penyebab

    Perilaku makan yang berhubungan dengan faktor keluarga dan lingkungan
    Aktifitas fisik yang rendah
    Gangguan psikologis (bisa sebagai sebab atau akibat)
    Laju pertumbuhan yang sangat cepat
    Genetik atau faktor keturunan
    Gangguan hormon

Gejala

    Terlihat sangat gemuk
    Lebih tinggi dari anak normal seumur
    Dagu ganda
    Buah dada seolah-olah berkembang
    Perut menggantung
    Penis terlihat kecil

Terdapat 2 golongan obesitas

    Regulatory obesity, yaitu gangguan primer pada pusat pengatur masukan makanan
    Obesitas metabolik, yaitu kelainan metabolisme lemak dan karbohidrat

Resiko/dampak obesitas

    Gangguan respon imunitas seluler
    Penurunan aktivitas bakterisida
    Kadar besi dan seng rendah

Penatalaksanaan

    Menurunkan BB sangat drastis dapat menghentikan pertumbuhannya. Pada obesitas sedang, adakalanya penderita tidak memakan terlalu banyak, namun aktifitasnya kurang, sehingga latihan fisik yang intensif menjadi pilihan utama
    Pada obesitas berat selain latihan fisik juga memerlukan terapi diet. Jumalh energi dikurangi, dan tubuh mengambil kekurangan dari jaringan lemak tanpa mengurangi pertumbuhan, dimana diet harus tetap mengandung zat gizi esensial.
    Kurangi asupan energi, akan tetapi vitamin dan nutrisi lain harus cukup, yaitu dengan mengubah perilaku makan
    Mengatasi gangguan psikologis
    Meningkatkan aktivitas fisik
    Membatasi pemakaian obat-obatan yang untuk mengurangi nafsu makan
    Bila terdapat komplikasi, yaitu sesak nafas atau sampai tidak dapat berjalan, rujuk ke rumah sakit
    Konsultasi (psikologi anak atau bagian endokrin)

ANEMIA

Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit.

Keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht) dan eritrosit lebih rendah dari nilai normal, akibat defisiensi salah satu atau beberapa unsur makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut.

Macam-macam anemia

Anemia defisiensi besi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau sintesa hemoglobin

Anemia megaloblastik adalah terjadinya penurunan produksi sel darah merah yang matang, bisa diakibatkan defisiensi vitamin B12

Anemia aplastik adalah anemia yang berat, leukopenia dan trombositopenia, hipoplastik atau aplastik

ANEMIA DEFISIENSI BESI

    Prevalensi tertinggi terjadi didaerah miskin, gizi buruk dan penderita infeksi
    Hasil studi menunjukan bahwa anemia pada masa bayi mungkin menjadi salah satu penyebab terjadinya disfungsi otak permanen
    Defisiensi zat besi menurunkan jumlah oksigen untuk jaringan, otot kerangka, menurunnya kemampuan berfikir serta perubahan tingkah laku.

Ciri

    Akan memperlihatkan respon yang baik dengan pemberian preparat besi
    Kadar Hb meningkat 29% setiap 3 minggu

Tanda dan gejala

    Pucat (konjungtiva, telapak tangan, palpebra)
    Lemah
    Lesu
    Hb rendah
    Sering berdebar
    Papil lidah atrofi
    Takikardi
    Sakit kepala
    Jantung membesar

Dampak

    Produktivitas rendah
    SDM untuk generasi berikutnya rendah

Penyebab

Sebab langsung

    Kurang asupan makanan yang mengandung zat besi
    Mengkonsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi
    Infeksi penyakit

Sebab tidak langsung

    Distribusi makanan yang tidak merata ke seluruh daerah

Sebab mendasar

    Pendidikan wanita rendah
    Ekonomi rendah
    Lokasi ggeografis (daerah endemis malaria)

Kelompok sasaran prioritas

    Ibu hamil dan menyusui
    Balita
    Anak usia sekolah
    Tenaga kerja wanita
    Wanita usia subur

Penanganan

    Pemberian Komunikasi,informasi dan edukasi (KIE) serta suplemen tambahan pada ibu hamil maupun menyusui
    Pembekalan KIE kepada kader dan orang tua serta pemberian suplemen dalam bentuk multivitamin kepada balita
    Pembekalan KIE kepada guru dan kepala sekolah agar lebih memperhatikan keadaan anak usia sekolah serta pemeberian suplemen tambahan kepada anak sekolah
    Pembekalan KIE pada perusahaan dan tenaga kerja serta pemberian suplemen kepada tenaga kerja wanita
    Pemberian KIE dan suplemen dalam bentuk pil KB kepada wanita usia subur (WUS)

DEFISIENSI VITAMIN A

Prevalensi tertinggi terjadi pada balita

Penyebab

    Intake makanan yang mengandung vitamin A kurang atau rendah
    Rendahnya konsumsi vitamin A dan pro vitamin A pada bumil sampai melahirkan akan memberikan kadar vitamin A yang rendah pada ASI
    MP-ASI yang kurang mencukupi kebutuhan vitamin A
    Gangguan absorbsi vitamin A atau pro vitamin A (penyakit pankreas, diare kronik, KEP dll)
    Gangguan konversi pro vitamin A menjadi vitamin A pada gangguan fungsi kelenjar tiroid
    Kerusakan hati (kwashiorkor, hepatitis kronik)

Sifat

    Mudah teroksidasi
    Mudah rusak oleh sinar ultraviolet
    Larut dalam lemak

Tanda dan gejala

    Rabun senja-kelainan mata, xerosis konjungtiva, bercak bitot, xerosis kornea
    Kadar vitamin A dalam plasma <20ug/dl

Tanda hipervitaminosis

Akut

    Mual, muntah
    Fontanela meningkat

Kronis

    Anoreksia
    Kurus
    Cengeng
    Pembengkakan tulang

Upaya pemerintah

    Penyuluhan agar meningkatkan konsumsi vitamin A dan pro vitamin A
    Fortifikasi (susu, MSG, tepung terigu, mie instan)
    Distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi pada balita 1-5 tahun (200.000 IU pada bulan februari dan agustus), ibu nifas (200.000 IU), anak usia 6-12 bulan (100.000 IU)
    Kejadian tertentu, ditemukan buta senja, bercak bitot. Dosis saat ditemukan (200.000 IU), hari berikutnya (200.000 IU) dan 4 minggu berikutnya (200.000 IU)
    Bila ditemukan xeroptalmia. Dosis saat ditemukan :jika usia >12 bulan 200.000 IU, usia 6-12 bulan 100.000 IU,  usia < 6 bulan 50.000 IU, dosis pada hari berikutnya diberikan sesuai usia demikian pula pada 1-4 minggu kemudian dosis yang diberikan juga sesuai usia
    Pasien campak, balita (200.000 IU), bayi (100.000 IU)

Catatan

    Vitamin A merupakan nutrient esensial, yang hanya dapat dipenuhi dari luar tubuh, dimana jika asupannya berlebihan bisa menyebabkan keracunan karena tidak larut dalam air
    Gangguan asupan vitamin A bisa menyebabkan morbili, diare yang bisa berujung pada morbiditas  dan mortalitas, dan pneumonia

GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY)

    Adalah sekumpulan gejala yang dapat ditimbulkan karena tubuh menderita kekurangan yodium secara terus menerus dalam waktu yang lama.
    Merupakna masalah dunia
    Terjadi pada kawasan pegunungan dan perbukitan yang tanahnya tidak cukup mengandung yodium
    Defisiensi yang berlangsung lama akan mengganggu fungsi kelenjar tiroid yang secara perlahan menyebabkan pembesaran kelenjar gondok

Dampak

    Pembesaran kelenjar gondok
    Hipotiroid
    Kretinisme
    Kegagalan reproduksi
    Kematian

Defisiensi pada janin

    Dampak dari kekurangan yodium pada ibu
    Meningkatkan insiden lahir mati, aborsi, cacat lahir
    Terjadi kretinisme endemis
    Jenis syaraf (kemunduran mental, bisu-tuli, diplegia spatik)
    Miksedema (memperlihatkan gejala hipotiroid dan dwarfisme)

Defisiensi pada BBL

    Penting untuk perkembangan otak yang normal
    Terjadi penurunan kognitif dan kinerja motorik pada anak usia 10-12 tahun pada mereka yang dilahirkan dari wanita yang mengalami defisiensi yodium

Defisiensi pada anak

    Puncak kejadian pada masa remaja
    Prevalensi wanita lebih tinggi dari laki-laki
    Terjadi gangguan kinerja belajar dan nilai kecerdasan

Klasifikasi tingkat pembesaran kelenjar menurut WHO (1990)

    Tingkat 0 : tidak ada pembesaran kelenjar
    Tingkat IA : kelenjar gondok membesar 2-4x ukuran normal, hanya dapat diketahui dengan palpasi, pembesaran tidak terlihat pada posisi tengadah maksimal
    Tingkat IB : hanya terlihat pada posisi tengadah maksimal
    Tingkat II : terlihat pada posisi kepala normal dan dapat dilihat dari jarak ± 5 meter
    Tingkat III : terlihat nyata dari jarak jauh

Sasaran

    Ibu hamil
    WUS

Dosis dan kelompok sasaran pemberian kapsul yodium

    Bayi < 1tahun : 100 mg
    Balita 1-5 tahun : 200 mg
    Wanita 6-35 tahun : 400 mg
    Ibu hamil (bumil) : 200 mg
    Ibu meneteki (buteki) : 200 mg
    Pria 6-20 tahun : 400 mg

GAKY tidak berhubungan denga tingkat sosek melainkan dengan geografis

Spektrum gangguan akibat kekurangan yodium

    Fetus : abortus, lahir mati, kematian perinatal, kematian bayi, kretinisme nervosa (bisu tuli, defisiensi mental, mata juling), cacat bawaan, kretinisme miksedema, kerusakan psikomotor
    Neonatus : gangguan psikomotor, hipotiroid neonatal, gondok neonatus
    Anak dan remaja : gondok, hipotiroid juvenile, gangguan fungsi mental (IQ rendah), gangguan perkembangan
    Dewasa : gondok, hipotiroid, gangguan fungsi mental, hipertiroid diimbas oleh yodium

Sumber makanan beryodium yaitu makanan dari laut seperti ikan, rumput laut dan sea food. Sedangkan penghambat penyerapan yodium (goitrogenik) seperti kol, sawi, ubi kayu, ubi jalar, rebung, buncis, makanan yang panas, pedas dan rempah-rempah.

Pencegahan/penanggulangan

    Fortifikasi : garam
    Suplementasi : tablet, injeksi lipiodol, kapsul minyak beryodium

1 komentar:

wahhh..
Thx yahh....sangat brmanfaat...

Tp rfernsinya donk!
Trus, apa saat ini kelima hal di atas masih mnjadi masalah gizi di Indonesia?
Emg brp prevalensi nya smpai saat ini shg msh mnjadi masalah?
Trkhir, gmn dg stunting?

Posting Komentar